Sabtu, 28 Agustus 2010

Copet itu Bakat atau Keahlian...?


“Mencopet itu keahlian atau talenta, lae?” tanya kernet bis kota itu pada sopirnya.
Artikel ringan ini kuterima kemarin lewat email. Penulisnya memakai nama samaran Lajessca Hatebe, bekerja sebagai script editor di salah satu in housetelevisi swasta di Jakarta.
HIDUP DI RANTAU kadang memang tidak pasti. Apalagi kalau orang tersebut tidak memiliki skill, yang tentu saja bisa diandalkan untuk bersaing. Namun kenyataan sehari-hari para urban di kota Metropolitan, Jakarta, tidak terlalu memusingkan soal keahlian ini.
“Ah, kalau soal ahli, semua orang pasti punyalah, ” celetuk saudaraku sebangsa, Parlindungan, yang sudah 5 tahun terakhir ini jadi sopir bis kota. Sebelumnya, Parlin, panggilan akrabnya, ke Jakarta mau nerusin kuliah. Sayang, baru semester 5, dia drop-out karena among-nya (bapak) di kampung sana keburu dipanggil Yang Maha Kuasa.
“Ahli apanya yang lae maksud?” tukas Si Soduon, kernet Parlin. “Bukankah keahlian itu didapat dari bangku sekolah?” lanjut Soduon, yang cuma tamat SMP.
“Betul kata kau. Tapi, keahlian dari bangku sekolah itu kan namanya keahlian teoritis. Tapi, yang utama adalah keahlian karena talenta yang kau punya.”
“Bicara apa pula lae ini? Talenta itu semacam apa lae? Apa itu makanan orang Jakarta?”
Soduon bingung. Maklum saja, ke Jakarta dia karena tidak sengaja. Dia baru 6 bulan tiba. Tadinya dia bekerja sebagai tukang cuci truk Medan-Jakarta, yang sering beristirahat di Lumban Dolok, Parapat. Entah bagaimana, atau mungkin terlalu capek, Soduon tertidur di atas terpal truk sehingga tidak diketahui sopir dan kernetnya. Barulah esok harinya, setiba di Pekanbaru, Soduon kaget melihat hari sudah terang dan langit dilihatnya berjalan cepat. Ketika dia bangkit hampir saja terjatuh dari atas truk, pusing melihat truk yang kemarin sore dicucinya sudah meluncur membelah jalan Lintas Sumatera. Nasib kaulah itu, nak!
“Talenta itu adalah bakat yang kamu miliki.”
“Oohh, contohnya, aku pintar nyanyi tanpa diajari. Atau, aku bisa jadi sopir, juga tanpa diajari? Gitu kan maksudnya, lae?”
“Iya, mirip-mirip kayak gitulah itu,” sergah Parlin males banget.
“Terus, kalo mencopet itu keahlian atau talenta, lae?
Parlin sontak menoleh pada Soduon yang sedang menyapu bis, setelah seharian mereka mengutak-atik kerusakannya. Maklum sajalah, bis kota di Jakarta kan kebanyakan “sampah” dari Korea dan Jepang.
“Yang jelas mencopet itu…, nanti kau bakal masuk neraka. Ada-ada saja pertanyaan kau. Cepatlah kau sapu itu biar kita pulang dari pool ini,” ketus Parlin sambil berlalu meninggalkan Soduon yang tinggal melongo.
“Tadi masih baek-baek diajak bicara. Kok, tiba-tiba sewot gitu? Ah, macam-macam saja lae Parlin itu.”
Soduon penasaran menanyakan soal pencopet, karena dia sering dipelototi tukang copet yang naik ke bis mereka. Soduon selalu ingin kasih tahu kepada para penumpang bahwa copet hendak beraksi. Tapi, dia takut kalau nanti para copet itu malah mencabut nyawanya yang memang cuma satu.
Copet memang menyebalkan
Kala malam mulai selimuti cakrawala Grogol, langkahku selalu terhenti di halte dekat mall Citraland. Biasanya, bis yang hendak aku tumpangi 976 (Steady Safe) Manggarai-Grogol, datangnya selalu lama. Kalo gak salah dengar dari kondekturnya, tiap hari bis ini dioperasikan hanya tiga. Bahkan kadang cuma 2 bis.
Karena terlalu lama menunggu, iseng aja, aku suka merhatiin orang-orang di sekitar. Semua serba capek setelah seharian kerja. Pada bis-bis tertentu selalu terlihat rebutan naik. Kadang, penumpang yang mau turun sampai kesulitan keluar. Keadaan seperti inilah yang sering dimanfaatkan para copet itu. Mereka pura-pura ikut berdesak. Biasanya berkelompok minimal 3 orang.
Anehnya, di dekat situ ada pos bantu polisi. Tapi mereka seakan tidak pernah takut lagi sama aparat yang selalu diharapkan masyarakat bisa memberi kenyamanan dan keamanan. Di situ juga aku lihat para “timer” yang selalu memalak setiap bis yang mampir. Aku suka gak habis pikir, apa fungsi dan kontribusi mereka berada di sana. Dibilang untuk mengatur bis atau metromini agar teratur hingga tidak membuat jalanan macet, nyatanya mereka tidak pernah ambil pusing keadaan itu. Ketika mereka sudah dapat uang dari para awak bis, para timer itu langsung pergi mengejar bis yang lain.
Ketika iseng aku bertanya pada seorang bapak yang katanya tiap hari selalu nunggu bis ke arah Cileungsi, kenapa polisi yang ada di situ tidak menindak mereka, jawaban si bapak sangat mengejutkan aku. Katanya, para timer itu memberi setoran kepada bapak-bapak aparat kita itu.
Oh, pantes aja di sekitar sini tidak pernah terjadi tawuran preman berebut lahan. Rupanya sudah dibekingi aparat. Astaghfirullah!
Aku cuma masem mendengarnya. Pikiran aku tergelitik; kapan sih bapak polisi negeri ini dapat diandalkan masyarakat tanpa harus mengeluarkan duit? Bukankah mereka digaji dari uang rakyat, yang notabene telah bayar pajak, baik sebagai wajib pajak maupun dari pajak-pajak lainnya?
Lamunan sontak buyar. Suara Ames, kondektur 976 yang sudah akrab, terdengar meneriakkan: “Slipi, Kuningan, Pancoran, Manggarai, Manggarai …!”
Aku terdiam duduk dalam bis. Terlalu capek bekerja seharian. Mataku inginrefreshing memandangi lampu hias sepanjang jalan. Bau tempat tidurku mulai kurasakan merasuk sanubari. Selamat malam, sopir dan kernet bis. 

Lima Elemen Untuk Kesehatan

Saya mulai mengenal beras merah pada waktu anak pertama saya masih bayi. Saat itu sang bayi mencret walaupun sudah minum susu yang disarankan oleh dokter. Akhirnya dokter menganjurkan untuk menggunakan air tajin beras merah yang cukup encer sebagai air pencampur susu. Air tajin harus cukup encer, karena bila terlalu kental, akan membuat bayi susah buang air besar. Setelah menggunakan cara ini, bayi saya tidak mencret lagi, dan kelihatan lebih sehat. Dagingnya juga menjadi lebih padat.
Setelah anak mulai besar, kami sudah mulai melupakan resep ini, sampai kedua anak kami sudah sekolah di SD. Mereka pergi dan pulang sekolah dengan menggunakan mobil antar jemput. Sejak mengikuti mobil antar jemput, anak-anak saya mulai sering sakit. Setiap bulan pasti sakit, karena ketularan flu dari teman-teman satu mobil atau satu kelas. Saya dan istri menjadi kasihan pada anak-anak, karena setiap bulan harus minum obat dan terbaring di tempat tidur selama beberapa hari. Hal ini akan mengganggu kesehatan dan pertumbuhan mereka.
Saya dan istri mulai memikirkan apa yang bisa dilakukan agar anak-anak dapat sehat kembali. Saya mulai mencari makanan dengan energi yang cocok untuk meningkatkan daya tahan anak. Akhirnya penulis menemukan kembali beras merah, sebagai makanan yang cocok. Kemudian kami mulai membuat air tajin beras merah.

Anak-Anak Sehat Dengan Beras Merah :

Sejak meminum air tajin beras merah secara teratur setiap hari, anak-anak penulis sudah jarang sakit. Jika sampai terkena flu, juga hanya flu ringan sehingga tetap bisa bersekolah. Dari pengukuran energi kesehatan diketahui bahwa tingkat kesehatan jantung dan paru-paru pada kedua anak tersebut telah meningkat beberapa kali dari sebelumnya, dan energi daya tahan mereka terhadap penyakit juga meningkat beberapa kali.

Energi Penguat Pada Beras Merah :

Apa rahasia kesehatan yang ada di balik beras merah ? Ternyata beras merah berbeda dengan beras putih. Beras merah mempunyai energi yang kuat untuk meningkatkan daya tahan berturut-turut mulai dari :
  1. Elemen Ether : organ kepala dan tenggorokan. Thyroid dan amandel yang ada di tenggorokan termasuk organ penting dalam meningkatkan daya tahan tubuh.
  2. Elemen Udara : dada dan organ tangan, yaitu jantung dan paru-paru
  3. Elemen Api : hati dan pencernaan
Beras putih sebaliknya lebih dominan pada elemen air dan bumi, sehingga lebih cocok untuk kesehatan ginjal dan organ reproduksi, tetapi tidak begitu efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.

Beras Merah Dan Demam Berdarah :

Beras merah juga bisa digunakan untuk membantu peningkatan daya tahan terhadap demam berdarah, karena demam berdarah menyerang energi pada elemen Air, Udara, dan Api, sedangkan beras merah dapat memperkuat daya tahan pada elemen Ether, Udara, dan Api.
Sekarang kami sekeluarga minum air tajin beras merah setiap hari. Orang tua kami juga rajin mengkonsumsi beras merah, karena dapat meningkatkan kesehatan pada organ kepala, tenggorokan, dan dada pada orang tua. Adik saya lebih ekstrim lagi. Anaknya masih bayi. Sejak bisa makan bubur, langsung diberi bubur beras merah.
Beras merah sangat cocok dengan peribahasa di bawah ini, karena beras merah dapat mencegah penyakit dengan memperkuat daya tahan tubuh.
Sekarang harga beras merah relatif sama dengan harga beras putih biasa. Jadi tidak ada salahnya mengkonsumsi makanan yang lebih sehat dengan harga yang sama.
Untuk resep membuat air tajin beras merah, silahkan melihat artikel mengenai resep.
Mencegah lebih dari dari mengobati

Melihat Kepribadian Orang Dari Cara Ngupil



1.Orang yang perfeksionis
Kalo mo ngupil, cuci tangan sampai bersih. Setelah ngupil, tangannya dicuci lagi dengan sabun, dan hidungnya di kompres dengan alkohol untuk mencegah terjadinya infeksi karena saat ngupil, bisa saja jari tangan melukai hidung.

2.Orang yang mottonya "waktu adalah uang"
Kalo ngupil, 2 lobang sekaligus (Sekali mendayung, 2 pulau terlampaui )

3.Orang yang berlibido tinggi
Saat ngupil, jarinya di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan sampai keluar lendir dan berhasil.

4.Orang yang tidak berpendidikan
Menggunakan jari orang lain untuk ngupil.

Orang yang tidak berpendidikan tapi punya sopan santun
Menggunakan jari orang lain untuk ngupil, dan mengucapkan terima kasih setelah selesai.

5.Orang yang inovatif
Menggunakan jari kaki untuk ngupil

6.Orang berjiwa samurai
Saat ngupil, jari dimasukkan ke hidung, ditarik keatas, diturunkan kebawah, tarik ke kiri kemudian tarik ke kanan dan di tarik keluar.

7.Orang yang suka ganti suasana
Selalu menggunakan jari yang berbeda tiap kali ngupil

8.Orang yang suka petualangan
Selalu mencoba untuk meraih celah yang tak pernah diraih tiap kali ngupil

9.Orang yang selalu memanageman waktu
Ada jadwal tuk ngupil per minggu, dan selang waktu tuk ngupil tiap kali ngupil.

10.Orang yang bagaikan punguk merindukan bulan
Mencoba untuk melompat-lompat, dan mengharapkan upilnya akan turun dengan sendirinya.

11.Orang yang berjiwa pembunuh
Hanya akan berhenti ngupil setelah hidungnya berdarah.

12.Orang yang ga tahan digelitik
Sambil ngupil sambil tertawa.

13.Orang yang mengikuti perkembangan teknologi
Ngupil dengan memakai antenna handphone.

14.Orang yang ga mau menghabiskan waktu tuk melakukan hal sia sia
Membuka lebar hidungnya dan menyuruh orang lain tuk ngintip apakah ada upil didalam, karena ga mau sia sia masukin jari ke hidung tapi ternyata ga ada upil.

15.Orang yang berjiwa oriental
Menggunakan sumpit tuk ngupil.

16.Orang yang taat beragama
Berdoa dulu sebelum ngupil.

17.Orang yang pilih kasih
Hanya ngupil lobang hidung sebelah kiri, sedangkan yang kanan dibiarkan begitu saja.

18.Orang yang adil, arif dan bijaksana
Kalo upil dari lobang hidung sebelah kiri lebih banyak dibanding upil dari hidung sebelah kanan, maka dia akan masukkan sedikit upil dari lobang hidung sebelah kiri kedalam lobang hidung sebelah kanan, baru mulai ngupil lagi.

19.Orang yang plin plan, alias baru makan buah simalakama
Ngupil salah, ga ngupil salah, ngupil salah, ga ngupil salah, ngupil salah, ga ngupil salah, ngupil salah, ga ngupil salah, ngupil salah, ga ngupil salah

20.Orang yang latah
Saat kuku tangan tanpa sengaja melukai hidung, maka dia akan berteriak “EH MAMA KU UPIL EH UPIL KU MAMA”

21.Orang yang pelupa
Saat jari tangan sudah didalam hidung, sesaat dia lupa apa yang ingin dia lakukan dengan memasukkan jari ke hidung.

22.Orang yang ceroboh
Orang yang setelah selesai ngupil lobang hidung sebelah kiri, kemudian lupa tuk ngupil lobang hidung sebelah kanan.

23.Orang yang suka mencontoh kata kata di iklan TV
Setelah ngupil, dia akan berkata “Ngupil? Siapa takut…” 

Bahagia Adalah Pilihan

Bahagia adalah Pilihan

Suatu ketika istri John Maxwell (pembicara dan motivator top), Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan.

Seperti biasa, Maxwell sang suami duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan.

Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya.

Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan yang ditanyakan ibu itu adalah, “Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?“

Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus.

Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, “Tidak.”

Seluruh ruangan langsung terkejut.

“Tidak,” katanya sekali lagi. “John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia.”

Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Dan Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya, ia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu (mungkin karena malu).

Kemudian, lanjut Margaret, “John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia..”

Tiba-tiba ada suara bertanya, “Mengapa?”

“Karena,” jawabnya, “tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri.”

Dengan kata lain, maksud dari Margaret adalah, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri.

Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar.

Tips-tips Mario Teguh

Kita menilai diri dari apa yang kita pikir bisa kita lakukan, padahal orang lain menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Untuk itu apabila anda berpikir bisa, segeralah lakukan
Bukan pertumbuhan yang lambat yang harus anda takuti. Akan tetapi anda harus lebih takut untuk tidak tumbuh sama sekali. Maka tumbuhkanlah diri anda dengan kecepatan apapun itu.
Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan bila anda sedang takut, jangan terlalu takut. Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan anda
Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil
Anda hanya dekat dengan mereka yang anda sukai. Dan seringkali anda menghindari orang yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah Anda akan mengenal sudut pandang yang baru
Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan
Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang di idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan
Jangan menolak perubahan hanya karena anda takut kehilangan yang telah dimiliki, karena dengannya anda merendahkan nilai yang bisa anda capai melalui perubahan itu
Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila cara-cara anda baru
Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan. Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong bila sikap anda salah
Orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan adalah orang muda yang tidak pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi pada keamanan, telah menua sejak muda
Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka, bila merasa takut, anda akan punya kesempatan untuk bersikap berani
Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stress adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.
Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan yang kemudian anda dapat
Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku seperti orang yang terus memeras jerami untuk mendapatkan santan
Bila anda belum menemkan pekerjaan yang sesuai dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan anda sekarang. Anda akan tampil secemerlang yang berbakat
Kita lebih menghormati orang miskin yang berani daripada orang kaya yang penakut. Karena sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa depan yang akan mereka capai
Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita ketahui, kapankah kita akan mendapat pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan
Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin anda capai.
Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.
Bila anda mencari uang, anda akan dipaksa mengupayakan pelayanan yang terbaik.
Tetapi jika anda mengutamakan pelayanan yang baik, maka andalah yang akan dicari uang
Waktu ,mengubah semua hal, kecuali kita. Kita mungkin menua dengan berjalanannya waktu, tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus mengubah diri kita sendiri
Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi orang tua yang masih melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan saat muda.
Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita kaya, tetapi menggunakannya dengan baik adalah sumber dari semua kekayaan

Humor Perang Saudara

Dua orang bersaudara asal Bulgaria ini tidak pantas dicontoh. Keduanya bagai anjing dan kucing, tak pernah akur. Bahkan, belum lama ini, keduanya nekat memasang pagar kawat berduri yang membagi rumah warisan orangtua mereka setelah keduanya saling tuntut di pengadilan sebanyak lebih dari 200 kali.

Seperti dikutip situs Google News (17 Januari 2008), Taso Hadijev (74 tahun) dan Asen Hadijev (75 tahun) dari Malka Arda, Bulgaria, saling tuntut selama 40 tahun. Mereka bersengketa memperebutkan hak atas tanah warisan orangtua mereka.

“Mereka memang begitu selama bertahun-tahun. Mereka pergi ke pengadilan lantaran alasan yang tidak jelas. Tidak pernah ada bukti siapa yang salah dan siapa yang benar,” ujar Sabka Shehova, seorang tetangga.

Hasilnya, keduanya jatuh miskin. Uang mereka habis untuk membayar pengacara.***